INFORMASI OTOMOTIF Gejolak geopolitik global yang berdampak pada harga energi fosil dinilai dapat memengaruhi arah perkembangan industri otomotif, termasuk di Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi membuat biaya operasional kendaraan berbahan bakar bensin semakin mahal.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menjadi pendorong percepatan adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Apalagi, selama ini salah satu pertimbangan utama konsumen dalam memilih kendaraan adalah biaya operasional sehari-hari.
Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, di balik krisis energi fosil ini, industri otomotif nasional menemukan momentum emas untuk mempercepat transisi ke EV.
“Jika terjadi kenaikan harga BBM, maka biaya operasional EV akan menjadi berkali-kali lipat lebih kompetitif dibandingkan mobil ICE konvensional,” ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.
Ia menjelaskan, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu gangguan terhadap pasokan minyak dunia.

Kondisi tersebut dapat mendorong lonjakan harga minyak mentah secara signifikan dalam waktu relatif lama. “Dalam skenario konflik Timur Tengah yang berbulan-bulan, seperti situasi terkini antara AS-Israel dan Iran, gangguan pada Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak global jauh melampaui USD 120 per barrel, seiring semakin menipisnya cadangan strategis dunia dan meningkatnya persaingan antar negara untuk mengamankan pasokan fisik,”
Menurutnya, dampak kenaikan harga minyak global juga bisa dirasakan oleh pasar domestik. Meskipun pemerintah masih menahan harga bahan bakar tertentu melalui subsidi, tekanan global berpotensi memengaruhi kebijakan harga di dalam negeri.
“Di Indonesia, meskipun harga Pertalite saat ini tetap stabil di Rp 10.000 per liter berkat subsidi, potensi penyesuaian harga Pertalite yang lebih tinggi akibat tekanan global akan menjadikan biaya operasional sebagai determinan utama dalam keputusan pembelian kendaraan,” ujarnya. Yannes menilai, dalam situasi tersebut kendaraan listrik memiliki keunggulan karena menawarkan efisiensi energi yang lebih tinggi serta biaya operasional yang lebih rendah dalam jangka panjang.
Faktor ini dinilai dapat mendorong konsumen rasional, termasuk pembeli mobil pertama, mulai mempertimbangkan kendaraan listrik. Menurut Yannes, kombinasi efisiensi energi EV yang superior serta biaya operasional yang jauh lebih rendah akan tetap menjadi kunci bagi konsumen rasional, termasuk first-car buyer, untuk beralih ke moda transportasi yang menawarkan efisiensi OPEX jangka panjang di tengah volatilitas energi fosil global yang sedang berlangsung ini.
Namun, dengan catatan, apabila EV entry-level asal China mampu menjaga harganya di range dengan selisih 10-15% lebih mahal dari segmen LCGC konvensional. “Asalkan harga listrik tidak ikut-ikutan naik pesat,”